Sabtu, 06 April 2013

Double Me Agent - Bab 4 -



XAXI AND XAYI


            Sinar mentari yang menyengat menerobos masuk melalui celah korden yang menutup di sisi tempat tidur dan mengenai wajahku. Merasa terganggu, aku menggeliat dan menggeser menjauhi daerah cahaya yang menyilaukan itu. Tubuhku terlalu lelah untuk bangun dan mataku terasa berat untuk dibuka. Saat paparan sinar itu sudah tidak lagi mengenai wajah, aku kembali bergelung dan memutar tubuhku. Kesadaran yang separuh ini kembali menghanyutkanku dalam tidur.
Angin pelan berhembus di ujung kening. Mataku berkedut dengan rasa malas aku membuka mata dan menemukan wajah Tobias berada tidak lebih dari satu jengkal ibu jari dan kelingkingku. Napasku seketika terhenti dan rasa kantuk menghilang saat napas teratur Tobias meniup lembut rambutku. Dengan perasaan gugup aku mulai bergerak pelan untuk menjaga jarak namun lengan Tobias tiba-tiba bergerak dan menggulung pinggangku untuk semakin dekat dengannya. Kepala Tobias menunduk dan tubuhnya meringkuk sehingga menyundul leherku dan wajahnya –aku berharap dia tetap terpejam– menyentuh bagian yang paling aku lindungi. Kedua kakiku mengejang saat tangan Tobias meraba-raba punggung dan sepertinya bibir bawahku sudah mulai membengkak karena gigitanku. Hembusan udara yang keluar dari hidungnya di leherku membuat sekujur tubuhku merinding sekaligus bergairah.
Bukankah ini kesempatanmu?
Tanganku mulai bergerak ke rambutnya. Lembut, halus, dan wangi. Perlahan aku mulai meraba wajahnya dan matanya tetap terpejam meski kepalanya sempat menggeliat akibat sentuhan tanganku.
Ada sesuatu yang menyembul dan menyentuh pahaku yang berasal dari antara selangkangan Tobias.
Dia pasti bercanda!
“Wangimu seperti surga, apa kau tahu?” sebuah suara serak mendengung dan reflek aku bergerak menjauh namun tertahan oleh lengan kokoh milik Tobias.
Aku berusaha untuk melepas pelukan Tobias dengan menekan dadanya agar menjauh dariku. “Bukankah ... kita ... harus ... menjemput ... Xaxi dan ... Xayi,” ujarku sambil menekan-nekan dada Tobias putus asa.
“Aku tahu, tapi berikan aku waktu sejenak untuk menikmati surga ini,” katanya dengan suara seksi di pagi hari.
Aku merengut kesal karena aku sebenarnya juga ingin menikmatinya –bahkan aku berharap lebih dari ini– Tunggu, apa yang baru saja aku katakan? “Kau bilang tidak akan menyentuhku,” kataku mengingatkan perkataan Tobias semalam.
Masih tetap bergelung dan terus mempererat pelukannya dan sesuatu di selangkangannya semakin mengeras, Tobias berkata, “Bukan aku yang memulainya ....”
Aku bergerak untuk memperoleh pandangan Tobias dan seringai jahil terpampang di wajahnya. Aku memberikannya tatapan paling tajam dan berharap bisa mengintimidasinya tapi apa yang dia lakukan membuatku terkejut.
Tobias bangkit dan langsung menyerang mulutku dengan kasar, menindih tubuhku yang belum siap dengan kedua kakinya dan menahan pergelangan tanganku dengan cengkraman. Tubuhku terkunci dan aku sama sekali tidak bisa bergerak. “Manis,” sengalnya dan terus mengulum bibirku. Butuh beberapa detik untuk mengembalikan kesadaranku tentang apa yang sedang terjadi. Hatiku memberontak, tanganku terasa gatal, dan hormon seksualku telah diproduksi secara besar-besaran. Tubuhku menegang dengan menyentakkan tubuh lebih dalam pada tempat tidur, tanganku menggenggam erat dan kedua kakiku bertaut.
Ciuman Tobias beralih menurun menuju leher. Ciuman yang basah dan intens tanpa terputus terus dilancarkan oleh Tobias. Erangan kecil keluar dari tenggorokanku tanpa sempat bisa aku tahan. Ada sesuatu yang basah jauh di bawah sana.
“Tobias,” panggilku dengan napas yang memburu.
“Ya, sayang?” jawabnya dengan desahan yang memabukkan.
“Aku harus ke kamar mandi sekarang,” kataku setengah berteriak setengah bergairah saat mulut Tobias mencoba membuka mulutku dengan sesuatu yang basah – lidahnya.
Ciuman panas itu berhenti. Tobias menatapku dengan sebuah senyuman misterius. “Sekarang?” Suaranya lembut dan penuh godaan. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku tetap ingin meneruskan adegan tadi namun kantung kemihku sudah penuh dengan cairan. Aku yang masih terkejut hanya mampu mengangguk pelan padanya. Mataku setengah berair karena harus menahannya. “Bisakah kau tunda sebentar saja?” Tangannya yang besar mengusap pipiku dan kepalanya mulai mendekati telingaku, mencium lembut daun telingaku.
“A ... aku harus melakukannya sekarang. Ini sudah di ujung ...,” kataku sambil menggigit bibir bawahku sekuat tenaga. Tobias mulai memindahkan tubuhnya dan aku memiliki akses untuk lepas dari tindihannya lalu segera melesat menuju kamar mandi dengan terburu-buru. Hampir saja tubuhku terpelanting karena lantai yang licin saat menutup pintu.
Sialan! Mengapa sepagi ini? Dan mengapa kau harus membuatku ke kamar mandi? Kau memang tidak bisa diajak kerja sama,” umpatku tersengal sambil memaki kantung kemihku. Sisa kegiatan erotis Tobias masih menyisakan gairah yang tertunda. Bibirku masih terasa panas, bengkak dan basah meski sekarang aku sedang duduk di toilet melakukan ritual yang membuatku harus menghentikan kejadian yang paling membuat jantungku ingin keluar dan tubuhku menggelinjang tanpa bisa terkendali.
Pintu kamar mandi berderit saat ritual yang aku lakukan sudah selesai. Tobias berdiri di kabinet yang terbuat dari marmer putih dengan kaos lengan putih panjangnya yang kendur tapi kekokohan dan dadanya yang bidang tetap menonjol. Celananya yang hanya sebataas pinggul memperlihatkan tulang selangkanya yang terlihat menyenangkan untuk disentuh. Aku tertegun dengan pemandangan paling manakjubkan dari Tobias yang terlepas dari setelan jas dan rambut rapi. Pagi ini rambutnya acak-acakan saat aku merapatkan diri di pintu toilet sambil terus menerus menelan ludahku. Dengan enggan, dia membuka keran dan mengusap  wajahnya dengan air. Aku tepat berada di sampingnya dan melakukan hal yang sama, meraih sikat gigi yang terletak di pojok kabinet.
Cermin yang cukup besar berbentuk persegi panjang merefleksikan bayangan kami. Beberapa kali mata kami bertemu di cermin, saling mencuri pandang. Tobias yang mempesona memunculkan senyuman yang lebih mirip seperti seringai menggoda. Dia belum melupakan kejadian tadi. Aku tahu itu. Di cermin itu, wajahku sudah setengah matang dengan rona memerah seperti buah ceri. Cepat-cepat aku menyelesaikan acara gosok gigiku dan sebaiknya keluar sebelum ....
“Kau memiliki sesuatu yang luar biasa di balik identitasmu sebagai seorang penjaga,” katanya pelan. Selangkah dia bergeser mendekatiku, “harus aku akui aku sangat menginginkanmu,” lanjutnya dan membuat jantungku tidak berhenti berdegup kencang dan pembuluh darah pada wajahku membuka lebar. Aku meletakkan sikat gigiku dan dengan gugup aku menoleh padanya, berusaha memberanikan diri menatap matanya yang abu-abu gelap menelisik jauh ke dalam tubuhku seperti menelanjangi setiap senti yang ada pada diriku, membongkarnya secara acak dan menghancurkan.
“Ini ... berlebihan Tobi, aku ... aku seharusnya melakukan tugasku. Aku hanya pekerjamu,”
“Ssshh ... aku tidak suka kau menyebut dirimu pekerjaku. Kau istimewa,” gurat senyum simpul tersuguh padaku, “Dan aku suka kau memanggilku Tobi, hanya kau yang memanggilku Tobi,” lanjutnya. “Saatnya mandi, masih ada Xaxi dan Xayi yang menunggu.” Tangannya bergerak ke rambutku dan mengacaknya lembut. Aku terkekeh dan mendorongnya untuk keluar sehingga aku bisa meneruskan aktivitasku di toilet. Aku masih mendengarnya terkekeh di balik pintu. Tanpa sadar aku tersenyum untuk pertama kalinya. Tersenyum untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam hidupku dan aku sendiri tidak tahu rasa apa ini. Aku seperti merasakan  kebebasan yang selama hampir seumur hidup membelengguku dan membuatku mungkin terlihat seperti monster sepanjang hari. Monster yang terbalut dengan wajah tak terbaca dan sejuta rasa balas dendam yang memupuk di hatiku bersama K, ayahku.
Kebebasan sejenak yang menggairahkan sekaligus menyenangkan. Aku mendendangkan sebuah lagu era 90-an tentang cinta omong kosong yang sering Hugos putar saat kami menghabiskan hari membosankan di kantor. Hugos adalah kawanku, usianya mungkin sama seperti Tobias, yang terpaut kurang lebih 5 tahun dariku. Kami adalah satu tim di unit khusus yang diciptakan MI6 dengan perlakuan khusus. Mungkin perlakuan khusus ini berbeda dari kata khusus yang sering digunakan pada umumnya seperti memperoleh kenikmatan lebih layaknya hal saat menaiki sebuah pesawat. Kata khusus ditujukan bagi pengguna kelas eksekutif sehingga kenyamanan ekstra dapat diperoleh. Khusus bagi kami adalah penderitaan lebih hebat, rasa sakit lebih perih dan perasaan terluka lebih dalam. Tidak hanya fisik kami yang dilatih untuk menjadi lebih kuat dan tahan banting, mental kami juga dituntut untuk tidak segan-segan membunuh. Aku tidak ingat sudah membunuh berapa banyak orang dalam tugasku sebagai agen.
Selama 5 tahun aku ditugaskan, aku telah dikirim ke berbagai pelosok negara. Bukan negara yang eksotik dengan tempat wisata yang luar biasa indah lalu berfoto ria dan memamerkannya pada orang-orang tetapi aku dikirim ke negara-negara yang bisa dikatakan mendekati kehancuran. Asia barat dan sekarang yang aku datangi, benua hitam, Afrika. Aku sempat dikirim ke Rusia saat perang dingin masih menguasai dunia. Sebagai sekutu dari Amerika, Inggris melakukan pengintaian. MI6 menunjukku karena kemampuan bahasaku yang melebihi rata-rata. Aku mampu menguasai lebih dari 10 bahasa yang tidak biasa dipelajari kaum pada umumnya. Tidak heran aku selalu ditunjuk sebagai pemimpin operasi ‘bawah tanah’ begitu kami menyebutkan misi rahasia.
Namun sekarang aku telah berpindah pekerjaan sebagai seorang bodyguard dengan membawa misi yang disamarkan. Tobias tidak akan pernah tahu bahwa aku menerima pekerjaannya semata untuk mengetahui kaitan Tobias dengan Dean Manusia-Yang-Akan-Mati-Ditanganku Reeves. Aku telah bekerja selama empat hari bersama Tobias dan belum sekalipun aku menemukan hubungan mereka. Aku tidak ingin mengambil resiko menanyakannya secara blak-blakan dan jika itu aku lakukan maka aku bukanlah Alice. Tapi dari sekian hal yang telah aku alami dalam kurun waktu empat hari aku telah terperangkap dalam sebuah area dimana aku sama sekali buta dan tidak tahu harus memulai atau menyikapinya seperti apa. Sentuhan lembut Tobias, ciumannya, belaiannya pada rambutku dan yang paling membuatku merasa malu adalah sikap derma dan sosialnya yang luar biasa begitu menusuk hatiku yang merasa jijik setelah apa yang terjadi dalam hidupku.
Orang kaya selalu memerintah sesuka hati. Aku mengakuinya dan aku mengalaminya. Tobias juga seperti itu hingga saat dia mengumumkan hak asuhnya pada dua orang anak negro yang menderita kelaparan. Keputusannya membuatku trenyuh sekaligus kagum padanya. Lelaki luar biasa yang pasti menjadi kebanggaan orang tuanya.
Ketukan lembut kembali menggeretku pada dunia nyata setelah mengilhami semua tindakan yang Tobias lakukan padaku. “Apa yang kau lakukan, Nona?” Suara Tobias lembut tanpa ada pemaksaan. Dia terlihat seperti menggoda dan aku yakin dia tengah menahan tawa.
“Aku sudah selesai,” teriakku. Rambut yang masih setengah basah aku gerai dan bergerak membuka kenop pintu. Tobias berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan mengusap-usap rambutnya sehingga semakin berantakan.
“Bajumu ada di sana,” katanya sambil menunjuk kaos berwarna biru laut dan celana jeans. Aku merasa panas saat melihat ada celana dalam berenda berwarna hitam senada dengan bra yang tergeletak rapi di atas tempat tidur. Aku bergeser memberi Tobias akses jalan untuk masuk ke kamar mandi.
“Terimakasih,” gumamku malu.
“Sama-sama,”
“Tunggu,” cegahku sebelum pintu kamar mandi tertutup. Tobias masih berdiri tegak menatapku dengan kepala miring. Aku tidak tahu harus berkata apa. Hari ini begitu menyenangkan. Beban di hatiku serasa berkurang dan itu berkat Tobias. Entah apa yang terjadi sebenarnya tapi aku ingin dia tahu bahwa aku merasa sangat bahagia. “Maaf soal semalam, aku seperti bukan menjadi seorang bodyguard,” gumamku dan sejenak ragu untuk melanjutkannya. Aku memberanikan diri mendongak dan Tobias sudah dekat di depanku. Lanjutkan, Alice! “Tapi aku ... jujur aku sangat senang kau mengajakku kemari,” ujarku semakin gugup. Ini bukan ujian kenaikan tingkat sabuk di karateka maupun kenaikan kemampuan menembak bahkan terjun payung di ketinggian 10.000 kaki tapi rasa gugup yang aku rasakan sekarang melebihi dari kesemuanya.
Tobias mengusap lembut wajahku dengan ibu jarinya, “Maaf untuk apa? Aku mungkin hanya sedikit khawatir. Sosok ayah? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal gila ini sebelumnya.” Tobias menatapku penuh rasa kecemasan. Ekpresinya yang khawatir pada pertemuannya dengan Xaxi dan Xayi pasti membuatnya tertekan. “Aku hanya membutuhkan bantuan di sini.” Dia menekan dadanya dengan tatapan sayu. “Dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai bodyguard, secara formal memang kau adalah bodyguardku. Seandainya saja ...,” ucapannya menggantung, wajahnya yang terlalu sering berubah-ubah dan pengendalian mimik wajahnya yang sempurna membuatku berkerenyit memandanginya dengan tatapan bingung. Seandainya saja? Apa? “Aku harus mandi. Jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama, atau ... kau ingin memandikanku?” godanya. Perubahan dari rasa cemas ke sisi godaan? Dia ... Siapa kau sebenarnya? Seandainya kau mendaftar sebagai agen di MI6, mungkin kau akan langsung diterima, batinku.
“Kau seperti bayi,” gumamku berpura-pura sinis.
“Kau cukup berani juga mengejek seperti itu pada bosmu,” balasnya.
“Kau bisa memecatku sekarang.” Aku mengendikkan bahu acuh tak acuh padanya.
Well, aku tidak bisa memecatmu sekarang. Mungkin nanti,” katanya terkekeh.
“Pergilah mandi, Anak kecil!” Aku membalikkan tubuhnya dan mendorongnya masuk kamar mandi.
“Kau boleh memanggilku anak kecil tapi percayalah ... dia ...” Tobias menunjuk sesuatu yang ada di celah selangkangannya dan aku membelalak terkejut sekaligus merah saat mengikuti arah telunjuknya, “ ...dia tidak kecil seperti yang kau kira, kukira kau sudah merasakannya meski masih tertutup oleh_”
“Diam dan masuk kamar mandi!” Teriakku setengah malu. Aku mendengar pintu tertutup dan gelak tawa Tobias yang tidak kunjung berhenti. Aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengusir memori tadi pagi saat sesuatu menyembul ... “Ah! Apa yang aku pikirkan?” Aku mengacak-acak rambutku geram.
Oo000oO 
Range Rover berwarna hitam yang mewah untuk medan sulit dan gersang di Afrika telah terpakir di depan kedutaan bersama dengan 5 mobil jip lainnya. Richard telah menyediakan segala perlengkapan keamanan dan mengerahkan 10 anak buah untuk mengawal kami menuju Mogashidu, Somalia dengan mengenakan seragam bebas seperti masyarakat biasa. Perjalanan kali ini akan cukup melelahkan karena jalan yang akan dilalui menggunakan jalan darat yang penuh dengan debu dan panas –meski kami tidak akan merasakannya di dalam mobil mewah itu.
Dou terlihat rapi dengan tatapannya yang datar tanpa ekspresi saat melintasiku. Sesekali dia berbisik pada Tobias dan Tobias mengangguk perlahan dan memberi beberapa perintah padanya. Dou, lelaki itu benar-benar membuatku penasaran. Lelaki dengan aksen bicara Rusia yang kental memberi penilaian tersendiri olehku untuknya. Pengalaman yang mengajarkanku untuk waspada apalagi terhadap orang Rusia. Bisa dibilang aku sedikit menaruh perhatian pada orang-orang yang dulu bearasal dari tempatku memata-matai. Namun dia, Dou lebih lama bekerja dengan Tobias dibandingkan denganku. Apa yang harus aku curigai sedangkan Tobias sendiri mempercayainya? Tapi instingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres pada lelaki itu. Ada banyak hal yang disembunyikannya.
Aku memang mencurigainya namun sikapku tidak akan turut menjadikanku defensif. Dia –meski jarang berbicara– selalu tersenyum –tipis– kepadaku.
Jalanan semakin berdebu dengan musim kemarau yang menyerang wilayah bagian Afrika sebelah timur ini. Savana dengan rumput-rumput yang menguning dan sebagian mati karena kekeringan. Dou mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar dengan mengikuti 2 jip yang berjalan mendahului Rover  dan 3 jip mengawal kami dari belakang.
Aku duduk di samping Tobias setelah mnegalami perdebatan sengit selama 2 menit karena aku memaksa diri untuk duduk di samping Dou. Tobias bersikeras jika aku duduk di sisi pengemudi maka dia akan mati karena bosan. Tobias menjadi dingin dan aku muak melihatnya yang seperti itu –itu menyakitkanku– dan aku menyerah pada argumennya sekaligus kuasa sebagai estimasi terakhir sehingga aku tidak bisa menolaknya. “Aku adalah bosmu!” Yah, itu adalah ungkapan sakral dan manjur membuatku patuh pada perintahnya. Ayahku juga bos tapi dia tidak pernah menjadikan jabatannya sebagai senjata untuk bawahannya, umpatku. Tobias menahan kekehannya saat masuk ke dalam mobil. Sepertinya dia begitu puas melihatku bertatapan sinis, mulut mengerucut dan hati yang menggondok.
Hewan-hewan khas Afrika terlihat sedang berbaring di savana yang luas dengan pohon-pohon yang mulai meranggas. Aku melihat beberapa ekor singa menguap karena bosan. Ekor mereka bergerak untuk mengusir hawa panas dan memberikan angin dari kibasannya. Beberapa ekor gajah yang berjalan bergerombol juga tidak henti-hentinya mngibas-ibaskan telinganya yang besar. Kawanan jerapah dan hewan lainnya menggoda untuk terus dilihat daripada aku harus bertatapan dengan Tobias yang sedang membuatku kesal.
“Minum,” sebuah kaleng soda dingin terulur saat pandanganku dari pemandangan di luar jendela teralih.
“Terimakasih,” ucapku mengambil minuman itu tanpa menoleh sedikitpun pada pemberinya. Tutup kaleng itu mengeluarkan bunyi yang berasal dari soda yang berkarbonasi saat kaleng itu kubuka dan meminumnya hampir habis untuk mengusir rasa haus yang cepat melanda kerongkonganku. Mataku teralih kembali pada pemandangan di luar.
“Apa yang sedang kau lihat?” bisiknya dekat dengan telingaku. Aku tersentak dengan bisikannya dan menoleh cepat. Matanya seperti mengeluarkan binaran bagai bintang. Mataku menyipit, dahiku berkerut.
“Haruskah sedekat ini?” Tobias mengangkat bahunya dan aku menghela nafas panjang dan di dalam hati bendera putih kembali melambai.
“Pemandangan seperti ini tidak akan kau jumpai di London atau manapun di dataran Eropa,” terangku.
“Aku tahu, aku pernah ke Afrika meski bukan di daerah ... seperti ini.” Aku tahu maksud dari Tobias. Afrika seperti kasta dimana ada daerah dengan begitu melimpahnya tambang emas di Afrika selatan, banyaknya situs sejarah seperti di Mesir, dan sebaliknya begitu banyak kelaparan, perang, dan kudeta di daerah konflik seperti di Somalia, Sudan dan Ethiopia. Sisi kemewahan sekaligus kemelaratan di benua hitam.
Sudah 4 jam lebih Rover membawa kami menerjang jalanan tanah menuju Mogashidu. Saat kami memasuki wilayah ibukota Somalia hal yang sama persis di beritakan koran menjadi pemandangan pertama kami. Kekacauan yang diakibatkan separatis dan banyak orang mengais-ngais rejeki. Memang ada beberapa dari mereka terlihat adalah orang berada. Bangunan-bangunan tua yang tampak sudah tidak layak huni masih digunakan. Rumah-rumah kumuh yang berjejalan di beberapa area membuat Mogashidu terlihat seperti habis berperang –atau mungkin memang masih dalam peperangan– dan melihat wanita-wanita perkasa memanggul beban dari berkarung-karung yang entah apa isinya yang kelewat berat dengan punggungnya dan sekaligus menggendong anaknya di dadanya dalam balutan kain memoles sisi ketegaran dan kekuatan yang masih dimiliki Somalia.
“Xaxi dan Xayi pasti akan sangat senang,” gumamku tiba-tiba. Rasa sayang tiba-tiba menjalari tubuhku melihat beberapa anak jalanan berlarian mendatangi seorang ibu memanggul sebuah jerigen berisi air dan lebih dari 4 anak saling berebutan untuk meneguk isinya.
“Begitu?”
“Mereka anak yang sangat beruntung memiliki ayah sepertimu, percayalah!” Aku mengusap lengan atas Tobias dan kembali mengalihkan pandanganku keluar jendela mobil.
“Aku harap juga begitu,” balas Tobias.
“Aku sedikit heran, mengapa Xaxi dan Xayi justru berada di Mogashidu dan tidak di Nairobi,” gumamku mengingat-ingat headline yang tertulis pada koran yang aku baca kala itu.
“Orang tua mereka berasal dari daerah terpencil Somalia dan mereka melarikan diri ke Kenya saat separatis melancarkan serangan di desa mereka dan menguasai seluruh wilayah di daerah tempat Xaxi dan Xayi tinggal. Setelah orang tua mereka meninggal karena luka yang mereka derita akibat melindungi Xaxi dan Xayi, kedua anak itu dikembalikan di sebuah panti asuhan di ibukota Somalia,” jelas Tobias dan aku mendengarkannya dengan cermat. “Mereka adalah anak-anak yang manis sebenarnya. Aku sempat berbincang-bincang dengan mereka saat kita selesai makan malam apartemen,” lanjutnya.
“Mereka bisa berbahasa Inggris?” tanyaku terkejut mendengar bahwa Tobias sudah melakukan kontak pada Xaxi dan Xayi.
“Ada penerjemah yang membantuku,” kata Tobias sambil tersenyum kecut. “Awalnya mereka hanya diam saja dan malah ketakutan saat aku mengajak bicara,” suaranya mengecil dan tatapannya lurus ke depan, “awalnya aku ragu, bisakah aku menjadi ayah mereka dengan keputusan gila mengangkat anak bahkan dua sekaligus .... Itu membuatku tertekan dan aku membutuhkan tempat untuk berbagi.”
“Lalu mengapa kau mengambil keputusan gila itu?”
Tobias menatap ragu ke depan dan menekan sebuah tombol. Sebuah papan bergerak ke atas sehingga memberi sekat antara ruang kemudi dengan kursi penumpang. Memberikan privasi bagi Tobias untuk meneruskan pembicaraan kami.
“Sudah terlalu banyak hidupku dipenuhi rasa bersalah,” jelasnya sejenak ragu, “Jangan tanyakan apa itu. Kupikir ini sebagai bentuk pembayaranku atas rasa bersalahku.” Tubuhnya bersandar pada jok dan memijat keningnya perlahan. Aku menatapnya terkejut dan juga berpikir hal apa yang membuat Tobias begitu merasa bersalah hingga melakukan pengasuhan anak ini?
“Bukankah itu hanya akan membuat mereka kecewa jika mereka tahu apa yang sebenarnya kau lakukan?”
“Di dunia ini, meski kadang kita melakukannya dengan perasaan tulus, jauh di dalam sana, di suatu tempat yang tidak mampu dijangkau akal manusia, kita semua selalu melakukan hal dengan pamrih atau melakukan hal atas dasar penebusan dosa. Selalu ada tujuan saat melakukan sesuatu. Seperti kita bersedekah untuk apa? Untuk ... mungkin memperoleh nama agar dikenal sebagai yang dermawan atau bahkan orang suci sekalipun, mereka akan melakukannya dengan pamrih berharap mereka masuk surga.” Sebuah pernyataan yang luar biasa berani. Meski aku bukan seorang yang rajin ke tempat ibadah –bagaimana bisa aku melakukannya dengan segala tetek bengek senjata dan pengambilan nyawa? Dosaku terlampau besar!– namun ucapan Tobias termasuk ucapan yang bagiku berlebihan. “Aku hanya berpikir secara rasional. Bahkan saat kau bekerja bersamaku pasti memiliki tujuan sesuatu, kan?” katanya yang bagaikan sambaran petir. Apakah dia mengetahui tujuan dibalik aku bekerja padanya? Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku berdeham dan mengalihkan pembicaraan.
“Lalu jika Xaxi dan Xayi tahu?”
“Semua rahasia, meski ditutupi serapat apapun oleh manusia pasti akan terbongkar.” Untuk seumuran Tobias, dia terlalu muda untuk bersikap begitu dewasa. “Aku harap seiring berjalannya waktu aku bisa mengubah tujuan ini menjadi sepenuh hati ingin merawat mereka. Bukankah aku sudah dalam bentuk usaha?”
Aku mengangguk pelan. Dia benar. Setidaknya dia sudah mencoba membuat Xaxi dan Xayi pergi dari wilayah konflik ini dan memulai kehidupan yang jauh lebih layak bersama Tobias.
“Apa kau akan membawa mereka ke apartemenmu?”
“Tidak ... mungkin tidak sekarang. Mereka harus belajar bahasa inggris lebih intensif jadi mereka akan lebih fokus untuk tinggal di asrama dan lagipula aku belum siap ada orang lain ...” Tobias terlihat enggan melanjutkan ucapannya. “ ...Aku sudah bilang pada mereka dan aku berjanji akan datang setiap dua minggu sekali,” katanya yang jelas-jelas ada alasan yang sedang dia sembunyikan.
Oo000oO
            Rover memasuki sebuah area terbuka dengan halaman yang luas dengan bebatuan dan pohon-pohon yang meranggas. Anak-anak kecil berusia anatara 4 sampai 10 tahunan tengah asyik bermain bersama di halaman. Mereka saling berlarian dan ada pula yang bermain ayunan yang terbuat dari ban mobil besar yang diikat di dahan pohon besar. Semua anak itu berkulit hitam dengan tubuh kurus namun ceria. Tobias dan aku turun dan berjalan menuju sebuah rumah yang cukup besar namun sebenarnya sudah tidak layak dihuni. Genting atapnya yang terbuat dari tanah liat banyak yang pecah dan bolong. Temboknya sudah berjamur dan beberapa di antaranya bahkan ada yang berlubang. Bisa saja ular derik masuk ke sana tanpa mengucapkan salam pada penghuni rumah.
            Para pengawal yang lain berjaga-jaga dengan seragam bebas agar tidak menakuti anak-anak yang lain. Mereka turut membaur bersama anak-anak berusaha menyembunyikan identitas mereka dan berlaku ramah.
Seorang wanita berusia seperti Julia dengan tubuh juga kurus dan berkulit hitam mendatangi kami dengan terburu-buru. Dia memakai baju sederhana tahun 80-an dengan motif bunga-bunga. Rambutnya yang berombak hitam menyembunyikna kelelahannya yang tergurat jelas di keriputnya yang terlalu banyak untuk usianya yang mungkin akan lebih muda dibandingkan wajahnya sekarang.
“Mrs. Cloe.” Tobias menjabat erat tangan wanita yang bernama Mrs. Cloe.
“Mr. Currey, senang bertemu anda.”
“Dan ini adalah Miss Keith,” tunjuk Tobias. Aku tersenyum dan menjabat mantap tangan Mrs. Cloe. Senyumnya mencetak lebih banyak kerut pada ujung matanya yang sendu.
“Silakan, mereka telah menunggu anda,” ucapnya seraya mengantarkan kami masuk ke dalam.
Kami memasuki rumah yang menyerempet seperti gudang. Ruangan yang dianggap sebagai aula tidak lebh dari ruangan kosong luas dengan ubin dari semen yang bocel sana sini. Cat tembok yang awalnya berwarna hijau dan oranye cerah kini sudah memudar dan banyak terkelupas dan ditumbuhi lumut.
Kami masuk lebih dalam lagi ke sebuah ruangan yang berukuran 5 x 5 meter dengan sebuah meja kecil dan kursi yang terletak di antara meja dan lemari yang berisi banyak kertas. Tidak ada perabotan istimewa lain. “Maaf, kami hanya bisa menyambut Mr. Currey seperti ini,” kata Mrs. Cloe gugup.
“Tidak apa-apa,” balas Tobias. Kami duduk dalam diam saat Mrs. Cloe meninggalkan kami di kursi yang reyot berwarna hijau untuk memanggil Xaxi dan Xayi.
Lima menit kemudian aku mendengar langkah-langkah kaki mendekat dan saat pintu terbuka aku melihat Mrs. Cloe menggandeng dua anak laki-laki yang berpakaian sangat rapi. Mereka sama persis seperti yang di koran, sedang menunduk malu dan mencuri pandang ke arah kami. Aku tersenyum melihat mereka yang mungkin saja merasa asing dengan kehadiranku dan Tobias.
Satu anak yang digandeng di tangan kiri Mrs. Cloe lebih tinggi dengan rambut cepak dan keriting kecil-kecil. Wajahnya menunduk sesaat lalu mendongak tanpa ekspresi, bola matanya sangat putih sehingga terlihat sangat mencolok dengan mukanya. Bocah itu mengenakan pakaian kemeja kotak-kotak berwarna putih dan celana panjang hitam dengan sepatu yang mengkilap.
Di sebelah kanan Mrs. Cloe seorang anak lebih kecil, tingginya hanya mencapai bahu anak pertama namun wajahnya sama seperti anak pertama. Dia tersenyum malu-malu ke arahku.
“Xaxi ... Xayi ....” Mrs. Cloe membawa kedua anak laki-laki itu mendekat. Aku menoleh untuk melihat reaksi Tobias. Dia membelalak, wajahnya sedikit pucat. Aku menyentuh tangannya dan merasakan keringatnya mengucur membasahi telapak tangannya. Apa dia juga gugup?
Tangan anak laki-laki yang lebih kecil dan hanya setinggi bahu dari anak satunya maju mendekati Tobias. Dengan malu-malu, dia mengangkat tangan untuk berjabatan, “Namaku ... Xayi,” katanya kikuk. Sepertinya dia baru belajar mengucapkan itu. Aksen aneh namun aku mengerti ucapannya.
Tobias meraih tangannya dengan kedua tangan, mengusap lembut punggung tangan bocah itu dan tersenyum hangat. “Namaku ... Tobias,” ucap Tobias perlahan dengan bahasa inggris yang perlahan agar Xayi mengerti. Xayi tersenyum dan menoleh padaku, mendatangiku dengan mantap dan mengulurkan tangannya yang mungil dan hitam, “Namaku Xayi,” katanya bangga. Mungkin dia sudah benar mengucapkan kalimat sederhana itu dalam bahasa inggris karena Tobias menjawabnya.
Aku tersenyum padanya, “Namaku Alice,” “Alice?” ulang Xayi dan menoleh pada bocah yang ada di belakangnya. Xayi menggelengkan kepalanya sekali memberi kode pada bocah itu untuk berkenalan.
Anak itu mendekat ragu-ragu dan sedikit rasa takut tergambar di ekspresinya. “Namaku Xaxi, aku ... kakak ... Xayi,” gumamnya pada Tobias.
“Hai, Xaxi. Aku Tobias,”
Xaxi cepat-cepat membuang muka beralih padaku. Dia memang kelihatan lebih gugup dibanding adiknya, “Xaxi,”
“Alice,” kataku lembut dan menariknya untuk lebih dekat denganku. Aku membelainya dan menemukan ketegangan kecil di tubuhnya yang sempat memaku. “Usiogope, [1]” ucapku lirih.
Mata Xaxi membelalak saat kata itu terlontar dari mulutku. Dia memandang berkeliling dan mematri tatapannya yang terkejut pada Mrs. Cloe. Mrs. Cloe pun sama terkejutnya seperti Xaxi. Xayi yang sedari tadi berada di sisi Mrs. Cloe beranjak mendekatiku dan menatap Xaxi, “Anaweza kuongea Kiswahili, [2]” katanya bersemangat.
Xaxi yang masih terkejut kemudian berubah menjadi hangat, “Nina furaha ya kukutana na wewen. [3]” Tangan Xaxi menjabat erat. Remasannya mantap tanpa ada lagi keraguan.
“Kau bisa berbahasa Swahili?” bisik Tobias. Aku mengangguk pelan. “Kejutan untukku,” lanjutnya dan aku hanya mampu menahan kekehku bersama Xaxi dan Xayi.
“Xaxi, Xayi ... Njoo hapa. [4]” Aku menarik lengan Xaxi dan Xayi dan berbisik pada telinga mereka.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Tobias yang sepertinya penasaran dengan apa yang kami bicarakan. Xayi tertawa cekikikan sedangkan Xaxi berusaha menahan dengusan.
Si ... ri .... [5]” Aku mengedipkan pada kedua anak itu dan tawa keduanya pecah sedangkan Tobias menekuk wajahnya menahan marah karena dia tidak mengerti bahasa yang kami ucapkan.
________________________________
[1] “Jangan takut”
[2] “Dia bisa berbahasa Swahili”
[3] “Aku senang bertemu denganmu”
[4] “Kemarilah”
[5] “Ra ... ha ... sia”

Selasa, 02 April 2013

Double Me Agent - Bab 3 -



BLACK COUNTRY

Mulutku seakan terkunci. Aku menatap Tobias yang sedang tersenyum tenang.
Tidak ada tanda-tanda kelucuan terukir di mata Tobias.
“Kau sudah memiliki anak?” Tanyaku kelu.
Dia menatapku seolah-olah aku mencoba menyangkal pernyataannya yang dia ucapkan.
“Ya, Al. Mereka anak-anakku.” Tegasnya. Foto-foto yang terhampar telah diambil Tobias dan dengan hati-hati dia melangkah pergi meninggalkanku.
“Tunggu!” Panggilku. Cukup 2 hari sudah membuatku bersikap kurang ajar pada bosku tapi inilah tabiatku.
Tobias menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.
“Tidak mungkin mereka anakmu.” Sanggahku setengah berlari.
“Apa itu masalah untukmu?” Ucapnya datar. Rasa kelu yang aku rasakan sama sekali tidak berkurang.
“Tidak mungkin kau memiliki anak negro. Meski kau menikah dengan seorang negro sekalipun, itu tidak akan mungkin menghasilkan­___    
“Anak negro, maksudmu?” Selanya dengan dahi berkerut dan aku mengangguk.
Apa aku sedang berharap bahwa Tobias sedang mempermainkanku? Atau malah aku sedang membuktikan pada diriku bahwa aku tidak ingin dia mempunyai anak?
“Secara hukum, mereka adalah anak-anakku.” Jawabnya singkat dan meneruskan langkahnya. “Oh ya, bersiaplah. Kita akan pergi ke suatu tempat.” Sebuah senyuman misterius terbentuk di bibirnya yang berhasil membuat hati serta jantungku melompat terkejut dan kegirangan.
“Kita akan kemana?” Tanyaku bingung.
Tobias berhenti di depan pintu ruang kerjanya. Matanya berputar sembari mengerutkan hidung seksinya dan kembali menatapku.
“Kau akan mengetahuinya nanti.” Jawabnya dan raganya sudah tertelan pintu yang menutup.
“Selalu dengan kejutan!” Ucapku gemas.

000ooo000

Mobil BMW individual seri 7 berwarna hitam metalik membawa kami menuju bandara London Heathrow. Doug menemani kami sebagai pengemudi sedangkan aku dengan sedikit paksaan dari Tobias, duduk dengan manis di samping Tobias di kursi penumpang.
Aku tidak tahu apa direncanakan oleh Tobias. Dia tidak menyuruhku untuk mengepak beberapa baju.
“Aku tidak—”
“Tidak masalah. Kita bisa membelinya nanti.” Penggal Tobias yang mengerti aku kebingungan karena ajakannya yang tidak dapat diprediksi.
30 menit kemudian kami tiba di bandara internasional Heathrow. Situasinya begitu ramai meski ini adalah hari Rabu. 2 hari pasca aku bekerja pada Tobias dan 2 hari aku merasa tidak melakukan apapun yang berguna. Aku merindukan sesi latihanku bersama K. Aku merindukan barretaku meski saat inipun aku membawanya. Aku merindukan rekan kerjaku dan bahkan aku merindukan kantor sempitku di MI6.
Apa yang aku lakukan di sini? Aku tidak lebih seperti penjaga bayi bukan bodyguard!
Benar! Tapi bayi yang kau jaga saat ini telah menjadi manekin ... Oh, Tidak! Obyek erotismu. Imajinasi paling tak tersentuh dari semua hal yang terjadi dalam hidupmu!
Benar saja! Suara sumbang paling memuakkan itu telah mengalahkanku telak dengan skor tak berhingga dan nol!
Sejak kapan aku memiliki pikiran picik dan kotor tentang seks? Hanya saat mataku bertemu matanya – saat itu!
Sekarang? Sepertinya tanpa kehadirannya sekalipun aku langsung bisa merasakan sentuhannya yang memabukkan.
“Alice?” Aku tersadar dari lamunanku dan melihat Tobias sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu samping mobil serta mengulurkan tangannya padaku.
Perlakuan yang berlebihan.
Aku meraihnya dan turut serta mengikuti langkah Tobias menuju dalam bandara.
Perjalanan kami menjauh dari keramaian. Tentu saja, seorang Tobias Currey tentu memiliki akses khusus apapun itu. Dataran Eropa, Amerika, Australia, dan sedikit Asia akan dengan mudah dimasukinya mengingat kelimpahan perusahaan yang tidak hanya satu jenis tetapi mungkin aku akan lelah menyebutkannya.
Sebuah jet besar bertuliskan Currey Avion telah tampak di sudut bandara yang khusus untuk penerbangan pribadi. Nilai untuk pesawat itu dari dalam saat aku memasukinya adalah benar-benar asombroso! Luar biasa!
Desain paling mewah dengan warna emas, perak, hitam, dan putih diatur sedemikian rupa dari interior sofa panjang, meja bar, dan fasilitas mewah lainnya sehingga terlihat cocok. Sudut mulutku berkedut menahannya agar tidak menganga.
Jelas aku tidak pernah mendapatkan fasilitas semewah ini baik dalam masa perekrutanku di markas – jelas tidak mungkin! Aku malah mendapatkan penyiksaan di sana! – maupun sesudah masa karantinaku di MI6.
“Kau menyukainya?” Tanya Tobias yang sudah duduk dengan anggunnya di sofa sedangkan aku tanpa sadar masih saja meneliti setiap sudut pesawatnya itu.
“Kau selalu menanyakan hal yang sama. ‘Apa aku menyukainya?’ Apa jawabanku memiliki dampak pada bisnismu?” Cukup dengan 2 hari telah membuatku berani pada Tobias. Pribadi kasarku sepertinya memang harus dipotong jika celah kebebasan diberikan padaku dan Tobias memberikan kebebasan itu. Kebebasan ketika tidak ada seorangpun relasinya di sekitar kami.
“Ya,” jawabnya sambil tersenyum penuh arti, “Penilaianmu kadang membuatku merasa bergairah,” sambungnya.
Demi apapun yang bisa menjalankan logika! Apa yang baru saja dia katakan? Mulutku menganga meski akses gigi seri sudah secara refleks menggigit sebagian kecil bibir bawah.
Perlahan aku duduk di sampingnya. “Apa otakmu hanya berisi pikiran gairah saat menanyakan apa aku menyukainya atau tidak?” Ambiguitas meningkat seiring sebelah alisku terangkat dan senyuman menggoda terbentuk dari mulutku.
Senyum Tobias semakin misterius dan tatapannya menjadi tidak terbaca. Duduknya perlahan bergeser mendekatiku dan serta merta aku merapatkan diri dengan menutup akses paling berharga dari diriku. Dada.
“Aku harus mengatakannya padamu. Kau selalu membuatku merasa bergairah,” katanya begitu dekat dengan telingaku. Hembusan napasnya berhasil mengirimkan jenis narkoba baru yang belum teridentifikasi. Jenis narkoba yang membuatku kegelian, ketagihan tanpa merasakan efek sakau yang membuat tubuhku sekarat.
“Begitu?” Aku mencoba menguatkan benteng pertahananku yang terombang-ambing oleh hempasan angin yang dibuat oleh Tobias.
Wajah Tobias semakin lama semakin mendekat dan ini jelas membuatku merasa tidak nyaman tapi juga menginginkan.
“Kita akan pergi kemana?” Tanyaku mencoba mencegahnya melakukan hal yang aku inginkan.
“Kita akan menjemput Xaxi dan Xayi,” desahnya tanpa terganggu sekalipun oleh ocehanku. Mataku berkedip tidak beraturan saat mulut Tobias hampir menyentuh mulutku. Adrenalin telah kembali terpompa dan degup jantung sialan itu semakin meronta-ronta. “Kuharap kau menyukainya,” tangannya mengelus lembut pipiku dan tengkukku bergidik dengan sentuhannya.
“Sir, jika—”
“Apa kau perlu diingatkan soal hukuman itu?” Mulutnya sedikitpun tidak menjauh.
Mataku berkedip cukup lama dalam pejaman kurang lebih 3 detik saat mengingat kembali hukuman paling aneh yang pernah aku terima.
“Tidak!” Gumamku tegas.
“Sir, anda membuat saya tidak nyaman,” erangku mencoba mencari pembebasan.
Tobias menarik tanganku sehingga aku bangkit berdiri. “Perjalanan ini akan panjang. Kau harus beristirahat.”
“Tunggu, Tobias!” Aku menepis pegangannya.
Ini harus segera diperbaiki!
Tatapan Tobias bingung tapi tetap tenang.
“Kita harus berbicara soal pekerjaan yang kau berikan padaku.”
“Bukankah Bella sudah memberikan salinan tugas apa saja yang akan kau lakukan?” Ujarnya tenang dengan wajah yang sedikit sekali menunjukkan ekspresi.
“Iya, aku tahu itu. Hanya saja selama 2 hari ini aku sama sekali tidak melakukan apa yang tertulis dalam salinanmu! Aku merasa tidak nyaman juga bingung. Kau memperlakukanku—”
“Begitu baik?” Selanya cepat dan aku mengangguk.
“Apa kau ingin aku menjadi bos yang kasar terhadapmu?”
“Bukan, itu juga bukan—”
“Kaulah yang sekarang membuatku bingung, Al,” katanya yang berhasil membuatku bungkam. Dia benar! Akulah yang membuatnya bingung sekarang dan ... sikapnya juga membuatku bingung.
“Aku hanya merasa kau tahu memakan gaji buta?” ujarku salah tingkah saat kernyitan dahi sekaligus senyum menggoda tersungging di bibirnya.
“Kau sudah menyelamatkan nyawaku satu kali sekaligus membuatku kehilangan nyawa melihatmu bertindak sesuka hati saat itu,” memori di kantor Tobias pertama kali menyerang masuk. Pertama kalinya seorang lelaki mengintimidasiku dan tidak sebaliknya.
Aku terkekeh mendengarnya. Kekehan yang kentara dibuat-buat.
“Baiklah, kuharap kau segera istirahat karena perjalanan kita akan panjang.” Tobias menggeretku menuju sebuah ruangan lebih dalam. Ada sebuah pintu dan saat Tobias membukanya, aku mendapati sebuah tempat tidur cukup luas dengan perlengkapan ruang tidur lainnya yang tak kalah mewah seperti kamar yang aku tempati di apartemen Tobias.
“Apa kau akan bertanya ‘apa aku menyukainya?’ lagi?” Godaku saat mata Tobias bertemu mataku. Kekehan keluar dari bibirnya dan aku ikut tertawa melihat wajahnya yang berbeda. Sisi lembut dan perhatian dari sosok Tobias.
“Tidak karena aku tahu jawabannya. Kau selalu mengatakan kata ya!” Jawabnya penuh percaya diri.
“Beristirahatlah, Al!” Gumamnya dan cepat kilat sebuah ciuman mendarat di keningku dan Tobias meninggalkanku dengan keadaan setengah sadar. Aku membeku sesaat untuk menerima rangsangan bahwa Tobias baru saja memberiku ciuman kening.
“A ... apa yang terjadi padamu, Al? Kau ... kau ... Sadarlah!” Aku menampar pipi kananku sekadar memenuhi kesadaran dengan rasa sakit sebagai obatku dari efek yang diberikan Tobias.

000

            Pesawat yang membawa kami mulai menukik dan mendarat. Aku melongok pada jendela kaca dan melihat tulisan megah Jommo Kenyata International Airport terpampang di atap gedung utama bandara.
“Kenya?” Kernyitku bingung dan beranjak untuk menyusul Tobias. Aku menemukannya sedang membuka beberapa dokumen di sofa yang kami duduki sebelumnya dengan segelas air putih dingin yang mengembun. Mata Tobias sama sekali tidak berpindah dari berlembar-lembar kertas yang dipegangnya. Tidak ada kernyitan di dahi yang biasanya dimiliki para kesekutif yang memikirkan naik turunnya saham mereka atau kaca mata menggantung di hidungnya. Tobias selalu terlihat keren!
Tobias menoleh padaku. Selalu dengan senyuman yang menarik seperti magnet. Aku menghampirinya dan duduk di hadapannya. “Tidurmu nyenyak?” Tanyanya sembari meraih gelas berisi air putih itu dan menengguk seluruh isinya.
Pesawat kami mendarat di bandara internasional Kenya. Saat kami memijakkan kaki di sana, aku merasakan hawa panas menyengat di sekujur tubuhku. Tengkukku serasa terbakar. Seseorang dari arah kejauhan dengan mengendarai sebuah mobil Jeep berhenti di depan tangga pesawat. Tobias memberikan perintah untukku masuk ke kursi penumpang sedangkan dia mengambil alih kemudi. Aku sempat memprotesnya karena aku bekerja padanya namun sekali lagi dia menyentakkan tubuhku sehingga beringsut masuk ke dalam jeep itu dengan sedikit kesal.
Kami memasuki area jalanan utama di Kenya. Lalu lintas di jalanan utama begitu lengang. Hal ini berbeda jauh dengan London yang merupakan kota padat. Tobias yang kini mengenakan kacamata hitam begitu fokus menyetir. Orang-orang lalu lalang dengan menggunakan berbagai macam transportasi. Mobil di kota itu sepertinya masih merupakan sesuatu yang sangat mewah karena banyak pengendara yang aku jumpai masih menggunakan sepeda dan beberapa dari mereka ada yang memodifikasi motor mereka sehingga muat untuk dinaiki lebih dari 3 orang.
“Kita akan kemana?”
“Kedubes Inggris telah menyediakan tempat kita beristirahat. Lokasi itu lebih aman mengingat—”
“Ya, Kenya khususnya Nairobi menurut sumber merupakan salah satu negara dengan lokasi yang dimungkinkan adanya transaksi yang kau tahu illegal.” Selaku mengerti dengan situasi yang sedang terjadi di benua hitam itu. “Kapan kita akan menemui Xaxi dan Xayi?” Tanyaku sambil menatap pemandangan yang sekarang memasuki hamparan savana kering.
“Besok,” kata Tobias singkat. Kami berbelok ke sebuah jalanan dan menemukan sebuah bangunan dengan tulisan British High Commision terukir di dinding banguna itu. Banguna itu tidak tinggi dengan corak tajam pada dindingnya seperti lipatan-lipatan. Beberapa petugas menjaga ketat area tersebut dengan pagar besi tebal berwarna hitam tertutup rapat.
Mobil kedua di belakang kami menyusul ke depan. Doug – orang kepercayaan Tobias – turun dari mobilnya dan berbicara pada salah satu petugas berkulit hitam dengan seragam berwarna hitam lengkap topi barret menambah kesan disiplin yang kental. Tobias dan aku yang berhenti beberapa meter dari Doug beranjak turun dan menemui petugas itu.
“Selamat sore, sir!” Sapa petugas itu, “Nama saya Lowe,” lanjutnya. “Silakan, Pak Richard Crweet telah menanti anda di dalam,” katanya dengan logat bahasa inggris yang masih kaku namun cukup membuat kami mengerti.
“Terima kasih,” balas Tobias. Kami melangkah lebih dalam lagi setelah pengamanan pada kami selesai diperiksa di bagian resepsionis.
“Silakan kemari, sir, miss” pinta Lowe.
Kami masuk ke sebuah ruangan berbentuk persegi yang cukup luas dengan dekorasi sederhana berwarna kuning gading dan interior minimalis. Kami melihat seorang pria dengan kulit berwarna hitam dengan rambut yang seluruhnya putih dan memperlihat dahi yang lebar tengah tersenyum lebar sekaligus menjabat tangan kami erat. “Senang sekali anda berkunjung kemari Tuan Currey,” senyumannya tidak pernah surut. Dia mengangguk sekilas saat tangannya meraih tanganku.
“Saya Richard,” ujarnya.
“Alice,” balasku.
Kami langsung disuguh makanan yang menggoda untuk segera dicerna. Aku lapar.
“Apakah surat-surat itu sudah selesai?” Tanya Tobias dengan wajah serius.
“Sudah, sir. Apakah anda menginginkan mereka berada di sini besok?”
“Aku yang akan menjemputnya,” jawab Tobias. Aku memperhatikan mereka dengan kadar yang sedikit. Perutku sudah mulai memberontak untuk segera diisi asupan gizi atau aku juga akan menyusul Xaxi dan Xayi mengalami kelaparan tingkat akut.
“Tapi sir, anda akan mengalami masalah saat anda melewati wilayah sepanjang jalan Nairobi dan Mogashidu akan berbahaya karena—”
“Kita bisa menggunakan jalur udara,” selaku, “Apa kelompok Alshabab masih aktif bergerak hingga sekarang?”
“Masih, miss,” raut wajah Richard berubah cemas, “itu akan berbahaya sekali, sir” lanjutnya.
“Doug bisa menyediakan pesawat kecil untuk kami,”
“Saat ini pesawat kami sedang dalam perbaikan,” Richard bergerak tidak nyaman dengan pandangan dari si penguasa Tobias. Aura Tobias yang mendikte benar-benar membuat manusia manapun bahkan seorang dubes serba salah.
Tobias bernafas cepat, “Siapkan mobil terbaik kalian dan beberapa pengamanan seperlunya,” ujarnya dingin.
Aku melihat laki-laki tua itu bergidik dan terkejut mendengar nada suara Tobias dan segera mengangguk saat kata terakhir Tobias selesai terucap.
“A ... anda se ... sekalian pa ... pasti kelelahan. Kami telah menyiapkan kamar terbaik,” kata Richard terbata. Jelas sekali wajah Tobias telah menyorotkan sinar kekecewaan dan dengan percaya diri dia bangkit. Kedua tangannya telah dimasukkan dalam kantong dan menatapku dengan ekspresi yang berbeda saat dia menatap Richard. Dia selalu tersenyum – hanya untukku.
“Silakan, sir,” kami keluar dari ruangan itu dan menuju lorong.
Tidak jauh dari tempat kami mengobrol tadi, Richard yang berada di depan sebagai penunjuk jalan berhenti di dua pintu yang megah dengan ukiran unik khas Afrika. “Ini kamar anda, sir,” ucapnya seraya membuka pintu itu dengan sedikit membungkuk. Tobias yang kelewat percaya diri itu sambil lalu masuk ke dalam ruangan itu dan serta merta menyentakkan tanganku untuk ikut masuk ke dalam ruangannya.
“Lepaskan saya, sir!” Ucapku sopan mengingat perjanjian antara aku dan Tobias ketika kami sedang bersama rekan bisnis – mungkin lebih tepatnya orang asing.
Tobias tidak melonggarkan sedikitpun pegangannya pada pergelangan tanganku. Langkahnya mantap meski aku melirik sekilas Richard yang melongo menyaksikan si penguasa melenggang dengan anggun.
Pintu itu kini menutup. “Maukah kau menemaniku malam ini? Hanya untuk malam ini,” pintanya yang kini menatapku dengan pandangan sendu.
“Tapi—”
“Kumohon,” suaranya mengecil. Wajahnya menunduk dan sebagian tertutup rambut poni miliknya yang panjang. Aku merasakan tubuhnya sedikit bergetar dan aku tidak sanggup untuk menolaknya.
Inikah sisi lain dari sang mega? Sisi lemah yang aku sendiri tidak mengerti? Tentu aku tidak mengerti. Aku baru mengenalnya dan inilah sisi baru Tobias yang ... sendu.
Aku mengangguk dan meletakan telapakku yang lain ke punggung tanggannya yang masih saja menggenggamku. “Aku akan menemanimu,” bisikku. Wajahnya terangkat dengan sebuah senyum kecil menghiasinya.
Dia terlihat seperti anak kecil jika wajahnya seperti itu.

“Letakkan di situ saja, Doug!” Teriak Tobias dari dalam kamar mandi. Kaos berlengan panjang berwarna putih, celana jeans baru, sepatu boot dan perlengkapanku telah disediakan Doug.
Thanks, Doug!” sapaku padanya. Pria berdarah Rusia dari logatnya berbicara bahasa inggris itu jarang sekali terlihat dan jarang pula tersenyum. Dia terlihat garang dengan sudut matanya yang meruncing. Matanya yang berwarna hijau dengan semburat oranye membuatnya indah namun juga mengerikan. Sekali dia tersenyum padaku saat ini sebagai balasan ucapan terima kasihku malah membuatku berkerenyit. Hanya senyuman dan dia menutup pintu itu.
“Sudah berapa lama lelaki itu bekerja pada Tobias?” Gumamku seorang diri.
“Hei nona pemalas, mandi bergegaslah mandi! Kau ... Bau!” Tobias mengetuk ujung kepalaku pelan dan aku tersadar dari pemikiranku akan sikap Doug – aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Aku mengaduh pelan dan mengusap kepalaku di area bekas ketukan Tobias.
Ada apa dengan pria dingin ini? Sikapnya sejak memasuki kamar ini terlihat seperti anak kecil. Sepertinya ada yang salah dengan makanannya tadi pagi atau perjalanan panjang membuat otaknya sedikit terganggu.
“Berhentilah seperti itu,” gumamku dan aku berakhir pada air hangat yang keluar dari pemancar air.
Hangat ... menyegarkan ... menggoda ... menggaitahkan ....
Hentikan, Wanita mesum! Aku tersentak dengan apa yang baru saja terlintas dalam pikiranku. Suara gemericik air masih mengguyur tubuhku.
Mengapa lelaki itu selalu saja hadir di setiap sudut waktu, tempat, dan bahkan situasi yang tidak pas?
Tidak pas? Maksudmu saat kau mandi?
Oh, berhentilah mencaciku untuk hari ini! Aku sudah sangat senang suara terkutuk yang datang entah darimana itu seharian ini tidak berkoar.
“Al?” Ketukan lembut membuatku lagi-lagi tersentak. Tobias.
“Aku akan selesai,” teriakku sambil menarik handuk dan membelitkannya. Dengan sedikit berlari aku menyambar kasar baju yang Doug berikan tadi.
Tampilanku acak-acakan sekali! Rambut basahku dengan sembrono aku ikat sehingga masih ada saja rambut nakal yang tergerai di leher.
Saat aku membuka pintu, aku menemukan Tobias telah terbaring di tempat tidur yang berukuran cukup besar. Matanya menatap langit-langit dan segera berpindah padaku begitu dia menyadari aku sudah selesai dengan urusanku di kamar mandi.
“Kemarilah,” perintahnya untuk duduk di sisi ranjangnya. Dengan patuh aku mendatanginya. “Apa mereka akan menyukaiku?” Gumamnya masih terus memandangiku dengan mata keraguan.
“Xaxi dan Xayi?” kataku, “Tentu, mereka akan memiliki ayah yang baik,” aku mencoba memberikan keteguhan. Pria ini saat pertama kali aku bertemu dengannya hingga hari ini telah berhasil membuatku takjub. Dingin, angkuh, dan otoriter sekaligus pendikte paling memuakkan telah menampakkan sisi sosial paling luar biasa.
“Aku harap aku mampu menjadi ayah yang baik bagi mereka,” tangannya mencari-cari sesuatu dan sepertinya telah menemukannya – tanganku. “Tapi aku tidak bisa merawat mereka sendiri,” sambungnya dan hal ini membuatku menganga. Sebuah ungkapan menggantung itu membuatku was-was. “Aku membutuhkan seseorang yang juga bisa merawat mereka,”
“Aku kira Julia akan dengan senang hati membantu,” kataku gugup. Kakiku saling berketuk cepat. Aku bukan pengasuh anak! Aku agen khusus dari MI6! Tidak lebih dari 10 orang sepertiku!
“Kau ...,” jeda panjang saat Tobias dengan berat mengambil nafas dan menghelanya cepat-cepat, “Kau benar, Al!” Tubuhnya bergerak menjauhiku dan tangannya terlepas dari punggung tanganku. “Tidurlah di sini dan jangan khawatir, kau tidak akan terganggu denganku. Aku menjamin tubuhmu tidak akan tersentuh olehku.” Tubuhnya membelakangiku di sisi yang berlawanan. Tiba-tiba saja hatiku seperti ada yang menggores dan meninggalkan rasa ngilu yang tidak kunjung hilang.
Aku menaiki ranjang itu, membawa selimut menutupi tubuhku hingga dagu. Terlalu hening malam itu. Aku menoleh pada sisi kiriku dan sebuah pandangan berwarna putih terpantul ke pupilku menampakkan punggung Tobias yang kokoh. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak dan lagi-lagi sesuatu di hatiku bergolak.
Bisakah kau membalikkan tubuhmu itu sehingga aku bisa memandangimu?
Pemikiran bodoh! Aku memutar tubuhku dan kami saling memunggi satu sama lain.
Selamat malam, Toby.